RSS

Setelah Satu Persatu Ulama "Diambil"

   Keberadaan seorang ulama seringkali terasa teramat mahal ketika Allah SWT mewafatkannya. Fenomena ini selalu berulang terjadi dalam kehidupan social dan keagamaan di negeri ini. Apa yang terjadi setelah wafatnya KH.Zainal Mustofa (28 Maret 1944), KH. Ruhiat Cipasung (28 November 1977), KH. Ishak Faried Cintawana, KH. Khoer Affandi (26 November 1994), KH. Ilyas Ruhiat (18 Desember 2007) dan terakhir KH. Sohibul Wafa Tajul Arifin atau Abah Anom (Senin 5 September 2011), menjadi dalil tentang adanya luka dalam tubuh umat Islam Tasikmalaya. Meninggalnya kiai yang sangat mengayomi umat dan sangat dicintai selalu saja membuat mereka terhenyak dan terpukul. Wafatnya KH. Sohibul Wafa Tajul Arifin yang sangat dicintai –terutama oleh para pengikut Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah (TQN)-misalnya menyadarkan kita bahwa simpul-simpul “kekuatan” umat terlepas satu persatu.
   Tasikmalaya adalah kota Santri. Ia masih dan akan tetap menjadi kota santri. Ratusan ulama dan ribuan santri setiap saat memanaskan suhu keagamaan, keislaman dan keilmuan dalam tensinya yang terjaga. Semua mengemban misi mempertahankan kehormatan Islam dan mengawalnya melewati babak-babak zaman yang sulit untuk diprediksi. Tebalnya lembaran kitab kuning dikupas dan redaksi bahasa Arab gundul ditaklukkan dengan cermat. Proses regenerasi ulama dan kiai masa depan terus dan akan terus berlanjut.
   Wafatnya satu persatu ulama “besar” semestinya tidak membuat umat Islam lengah. Meskipun pengajian para Santri tetap lestari, meskipun kurikulum pesantren semakin diperluas, namun berbagai hal yang mengkhawatirkan pun terjadi dalam radius yang serius. Harus diakui, kehadiran ulama di Tasikmalaya yang “mutafaqqih” dan “mutabahhir” (mendalam) semakin berkurang dari tahun ke tahun. Tanggul umat telah banyak yang jebol. Pasak Islam itu semakin tergerus dan dunia modern semakin menampakkan taring kekuasaanya. Godaan dunia modern merebut hati para pelaku dan “pengemudi” pesantren. Kemudian, tidak sedikit di antaranya yang menggeser posisi dan lebih banyak berada di luar pesantren dan betah berada pada wilayah-wilayah yang “kurang pas” dengan dunia mereka yang sebenarnya. Sisi-sisi terang dunia modern menerangi dunia pesantren kita. Para kiai dan santri kini tak lagi “Gaptek”. Namun selain itu, gelapnya dunia modern sering membawa kita pada kehawatiran mendalam akan aktivitas dan kiprah para ulama. Dunia social diwarnai berbagai peristiwa dan momentum yang merebut hati para kiai untuk hadir dan terlibat di dalamnya. Jebakan demi jebakan pun menjerat. Maka, asumsi public terhadap korp keulamaan pun terpolarisasi.
   Kini, umat Islam memiliki harapan “besar” alan ketersambungan siklus kehadiran ulama “besar” yang tak terputus. Ke”besar”an seorang ulama bertumpu pada cinta yang mendalam dari umat pada mereka. Ulama yang tercatat pada paragraph awal tulisan ini nyaris tanpa cacat dan nyaris tak ada komentar miring dan negative dari umat untuk mereka. Tinta emas tertoreh dan smeua narasi yang tertulis mengabarkan keikhlasan mereka dalam mengabdikan hidup demi umat dan demi agama Islam. Sebuah wujud cinta mendalam mereka pada Rabb-Nya tergambar pada setiap jejak langkah yang mereka tinggalkan. Cinta yang mendalam dari umat dan nama baik mereka yang terjaga menggambarkan konsistensi dalam menjaga keutuhan dakwah dengan menjauhi hal-hal yang syubhat dan menjaga perasaan umat yang mereka ayomi. Gambaran keharuman nama mereka yang hadir dari mulut ke mulut merupakan gambaran serupa yang terjadi pada para ulama “besar” dahulu. Puluhan bahkan ratusan biografi yang hadir dan hangat menyentuh tangan kita mengundang dan menghadirkan cinta berbagai generasi dan memanjang hingga di penghujung generasi terbaik umat di akhir masa kelak.
   Kini, esok dan hari-hari panjang ke depan, ulama-ulama “besar” di Tasikmalaya akan mengorbit. Ulama yang ikhlas mewakafkan hidupnya demi Islam dan umatnya. Ulama yang siap meneladani kehidupan dan jalur dakwah para ulama saleh terdahulu. Ulama yang menjauhi syubhat zaman dan fitnah masa. Ulama yang bisa “menyelamatkan” dirinya dari godaan kehidupan social politik yang seringkali menjebak dan memerangkap. Ulama yang harum dan dicintai, seperti harum dan dicintainya ulama saleh terdahulu.

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan isikan celoteh Anda tentang Blog ini.!

Absen gan..
© 2009 - Wildan Site's | Design: Choen | Pagenav: Abu Farhan Top